JAKARTA - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tidak
ingin agenda pemerintahannya terganggu dengan meningkatnya tensi
politik pada tahun 2013. Dengan partai-partai yang menjadi pendukung
koalisi, SBY meminta agar kepentingan nasional tetap menjadi prioritas.
"Dengan mitra koalisi, Presiden SBY menyerukan agar kepentingan nasional
tetap ditempatkan di atas segalanya," ujar Staf Khusus Presiden Bidang
Komunikasi Politik Daniel Sparringa kepada koran ini, kemarin (31/12).
Sebagai presiden dan pimpinan koalisi, SBY bakal menghadapi tantangan
dalam melakukan komunikasi politiknya.
"Akan ada seni berpolitik yang rumit sekaligus menantang untuk dilalui
SBY sebagai pemimpin koalisi," sambung Daniel. Meski begitu, lanjut
dia, SBY akan memastikan porsi waktu yang lebih besar untuk bertemu
secara langsung dengan rakyat. Antara lain melalui kunjungan lapangan
dan dialog langsung dengan masyarakat. "SBY berharap dapat meningkatkan
interaksi dengan masalah di tingkat paling bawah," katanya.
Gaya komunikasi publik yang akan dilakukan SBY, disebut Daniel bakal
lebih tanpa beban. Pasalnya, SBY tidak lagi dalam posisi menjadi calon
presiden dalam pemilu mendatang. "Lebih mudah baginya untuk
menyingkirkan rintangan personal dan politik untuk tampil lebih apa
adanya," ucapnya.
Doktor lulusan Flinders University, Australia itu menegaskan, sisa dua
tahun pemerintahan SBY " Boediono menjadi tahun yang penting, dinamis,
sekaligus agresif. Setiap kesempatan yang ada akan dimanfaatkan untuk
memastikan agar mandat SBY sebagai presiden bisa diakhiri dengan
cemerlang.
"Pertaruhannya memang sangat besar karena akan ada banyak agenda politik
yang saling bersaing untuk mendapatkan perhatian publik," kata Daniel.
Menurut pengajar Universitas Airlangga itu, SBY akan menjauhi aktivitas
yang hanya mengejar publisitas. "Dia juga siap untuk tidak populer bila
kebaikan bersama menjadi taruhannya, di jangka pendek atau panjang,"
sambung Daniel.
SBY dalam beberapa kesempatan mengingatkan jajaran menterinya agar fokus
pada rencana yang telah ditetapkan dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP)
maupun APBN. Hasil evaluasi yang pernah dilakukan menunjukkan ada tugas
pokok yang terabaikan. Padahal menurut SBY, para menteri berada dalam
satu kabinet yang memiliki program kerja, APBN, dan sejumlah kebijakan
maupun instruksi, baik lisan atau tertulis.
SBY juga mengingatkan para menterinya yang memiliki latar belakang
parpol. Dalam Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) jilid dua, beberapa
menteri bahkan menjadi ketua umum parpol. Antara lain Ketum PAN Hatta
Rajasa (Menko Perekonomian), Ketum PKB Muhaimin Iskandar (Menakertrans),
dan Ketum PPP Suryadharma Ali (Menag).
Sumber: JPNN.com